Apakah kerja keras identik dengan nasib yang tragis ? pasti banyak yang akan membantahnya. Andaikata ketika melihat seorang tua berumur 50-an memegang cangkul, sekop untuk menggali jalan, seorang anak berumur belasan yang dengan suara terbaiknya menyanyi di jalanan. Masihkah mengatakan kalau nasib mereka tidak tragis. Bagaimana kalau itu bukanlah masalahnya, jangan-jangan masalah sebenarnya ada di kita yang memberi penilaian. apakah kita tidak boleh berbelas kasihan, apakah kita tidak punya hati. Kita patut berbelas kasihan dan punya hati. tapi belas kasihan yang sesungguhnya adalah melihat betapa rajinnya mereka, betapa hebatnya hati mereka yang mampu mengalahkan rasa tidak enaknya capek. Siapa pula yang berani menjamin kita lebih bahagia dari mereka , belum tentu. dibalik keringat dan debu jalanan jangan-jangan mereka memiliki kebahagiaan berpuluh-puluh kali lipat daripada kita ketika membayangkan hasil kerjanya akan membahagiakan keluarga di rumah. saya memang masih sering melakukan kesalahan saat mengasihani orang dari penampilan luar, bisa jadi itu pandangan yang dangkal. Belas kasih yang sesungguhnya adalah kagum terhadap batin mereka sudah mengalahkan kondisi jasmani. Kalau diingat-ingat ketika kita kasihan terhadap seseorang kita justru sedang merendahkan mereka, untuk itulah kita melihat banyak yang tidak senang dikasihani tapi banyak yang akan berterima kasih kalau dikagumi. Karena bisa saja diantara orang2 yang kita kasihani sebenarnya menyimpan kemuliaan yang jauh dibanding dengan kita. Yang benar-benar patut dikasihani adalah saat kita belum sadar berpikir sempit karena merasa patut mengasihani orang lain, tapi di sisi yang lain juga merasa nyaman dengan diri sendiri.
> Kisah Perjuangan Bocah Pengamen Jalanan
> Kisah Perjuangan Bocah Pengamen Jalanan
By : Yantokierns






0 komentar:
Poskan Komentar