Kebodohan atau kejahatan

Berawal dari dua orang tokoh yang saya kagumi, kedua tokoh ini saya pilih memang cenderung subjektif karena keunikannya. Gusdur adalah salah satu tokok pluralisme di Indonesia yang membebaskan kebudayaan Cina untuk berkembang, sedangkan Kwik Kian Gie adalah seorang warga Indonesia keturunan  Cina yang sempat berkarya di politik. Gusdur saat ini sudah almarhum namun Kwik Kian Gie masih tetap eksis dengan analisanya. Kedua tokoh tersebut memiliki beberapa kesamaan kecil yaitu mereka tidak  pernah segan mengkritik pedas orang-orang yang dipandang tidak benar. Sepengetahuan saya banyak  juga yang menentang dan mamandang sikap mereka saat berkomentar di media  kurang anggun dan itu pula yang membuat mereka kurang disenangi lapisan masyarakat tertentu. Dalam sepak terjangnya pun kedua tokoh tersebut selalu berdiri kokoh menentang banyak hal.

Namun saya kemudian berpikir bahwa semua orang semasa hidup pasti bertemu dengan banyak teman maupun lawan, dan mereka semua tidak akan jauh dari kelemahan dan kesalahan. Yang penting adalah pendekatan dalam menyikapi segala kelemahan orang lain, dengan cara menentangnya atau memakluminya?  Untuk itu pandangan saya adalah ketika kita berpandangan bahwa itu adalah kesalahan yang semata-mata disebabkan oleh kebodohan atau ketidaktahuan yang akan merugikan diri sendiri , atau disituasi lainnya kita justru harus berpandangan bahwa terdapat kesalahan yang disebabkan oleh kepintaran  karena yang dirugikan bukan cuma diri sendiri tapi orang banyak sehingga dengan sendirinya menjadi kejahatan. Kesalahan yang pertama patut di kasihani tetapi kesalahan yang lainnya selayaknya di perangi.

Dalam menyikapi kesalahan akibat dari kebodohan tidak ada salahnya kalau kita setoleran mungkin . Kita menerimanya dengan penjelasan bahwa mereka hanya kurang bijaksana saja karena saya sendiri sering  terjebak melakukan kesalahan tersebut. Pada saat itu pastilah mereka hanyalah orang yang membutuhkan masukan, atau boleh jadi kita merasa terpanggil karena mereka terperangkap oleh sikap negatif tersebut yang cenderung merugikan diri sendiri dan orang terdekat. Mereka cuma perlu untuk diingatkan atau sedang memerlukan pengaruh luar yang positif. Untuk melakukan itu diperlukan sikap memaafkan dan menerima bukannya langsung menghakimi atau mempromosikan kesalahan tersebut. Namun justru inilah yang sering terjadi terhadap orang-orang baik tetapi lengah sehingga merasa punya kewajiban untuk menghakimi dan memblow-up kesalahan orang lain yang membuat mereka terlihat di pihak yang benar tetapi disadari atau tidak mereka sebenarnya terlihat tidak bijaksana.

Tetapi saat bertemu dengan kesalahan karena kepintaran tentu saja pendekatannya harus sama sekali berbeda dengan reaksi yang dijelaskan diatas. Yang dituntut bukan lagi toleransi tetapi adalah keberanian. Sekali seorang idealis terjun dalam dunia penegakan hukum dan dunia politik maka satu hal yang pasti yaitu sudah pasti harus siap berperang melawan kepintaran tersebut walaupun resikonya reputasi menjadi terancam atau nyawa mereka dalam bahaya. Semua itu karena mereka berdiri di atas satu pemikiran yaitu untuk membela kepentingan orang banyak. Karena mereka tahu apabila mereka tidak melawan masyarakat akan sangat merasakan dampak buruknya. Untuk itulah suara nuraninya bukan lagi toleran tetapi perlawanan. Sekali mereka merasa takut ataupun tergoda untuk toleran maka kemungkinan besar mereka tidak lagi idealis seperti yang didengungkan ketika masih muda. Bukankah di jaman penjajahan para pahlawan adalah orang yang paling terdepan dalam melawan dengan cara yang bahkan harus sampai membunuh. Tetapi di jaman ini penjajah sering bersembunyi di dalam kesopanan, bersembunyi di dalam bulu domba sehingga cara melawan dengan senjata sudah tidak mungkin. Kalau dengan senjata tidak mungkin, begitu pula untuk membuat mereka sadar pasti lebih tidak mungkin lagi sesulit membimbing para penjajah agar tidak menjajah.

Yang terjadi sekarang bukankah sebaliknya ketika dalam kehidupan sehari-hari masyarakat saling menyalahkan kesalahan orang lain yang dipertontonkan media atau mengutuk dengan  keras kesalahan orang dengan menggunakan cara yang keras sekalipun. Tetapi di dalam dunia berpolitik saat menghadapi orang-orang pintar yang kesalahannya terkubur rapi dan merugikan kita beratus-ratus kali lipat kita hanyalah seperti orang buta dan kita memang buta sepenuhnya. Kita cuma bisa mengandalkan orang-orang yang kemampuannya setara dengan orang pintar tersebut untuk membongkarnya. Tapi yang terjadi tiba-tiba orang baik itu pun menjadi seirama dan ikutan pintar. Mungkin saja banyak yang merasa takut dan tiba-tiba merasa perlu bersikap toleran, memaafkan, yang tidak lain hanyalah dalih atas rasa takut mereka.

Saya hanyalah orang biasa yang mencoba lancang tetapi mungkin yang saya kagumi dari gusdur bukan pluralismenya tetapi adalah keberaniannya. Yang saya kagumi dari Kwik Kian Gie juga bukan kepintarannya di bidang ekonomi tetapi adalah keberaniannya.

By : yantokierns

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites